Senin, 04 Februari 2008

ESQ 165 Disambut Dunia Barat di Oxford


Ary Ginanjar Agustian mendapat kesempatan berbicara di hadapan peserta dari dunia Barat yang digelar di Oxford Inggris oleh Prof Dr Danah Zohar dan Prof Dr Ian Marshall pada 11-18 Maret 2007 lalu. ESQ 165 diapresiasi oleh para pakar spiritualitas dari berbagai belahan dunia. Gaungnya hingga kini masih terasa, khususnya bagi para alumni ESQ.


Respons yang amat positif datang dari para peserta yang rata-rata pakar SDM dan SQ dari berbagai agama dan negara. Pertemuan itu dihadiri oleh peserta dari Amerika, Inggris, Denmark, New Zealand, Australia, Afrika Selatan, Nepal, India, Dubai, Slovenia dan Karibia. Setidaknya, ada tiga hal penting dari ajang internasional bergengsi itu.


Pertama, para peserta dari dunia Barat tersadarkan bahwa selama ini kesan negatif terhadap Islam ternyata keliru (baca: Komentar). Bahkan, para peserta menghampiri dan menangis sambil merangkul Ary. Mereka menyadari keindahan dan keagungan Islam dan Al-Quran. Para profesor dan doktor itu yakin, ESQ dapat turut menciptakan perdamaian dunia.

Tidak ada orang lagi yang bisa benci dengan Islam setelah presentasi Ary. Media di Inggris selama ini salah mempersepsikan Islam. Kita akan bawa ide Ary ini ke dunia Barat supaya mereka mengerti, ujar Prof Dr Danah Zohar, tuan rumah yang terkenal lewat bukunya, Spiritual Capital.


Kedua, momen itu adalah sebuah langkah maju bagi terwujudnya Dunia Emas 2050. Respon mereka yang luar biasa ini semakin menambah keyakinan saya bahwa ESQ 165 dapat diterima oleh semakin banyak bangsa di dunia, khususnya dunia Barat, ujar Ary Ginanjar. Ini benar-benar membangkitkan semangat saya untuk memasuki babak baru menyebarkan nilai ESQ 165 ke dunia Barat, imbuh pria yang selama di Oxford dan London ditemani sang adik, Dyah Utami Aryanti, yang sering disapa Intan.


Ketiga, para ahli spiritual dunia itu tidak hanya tersadarkan dan tercerahkan, tetapi juga akan siap membantu. Mereka menyatakan akan turut menyebarkan nilai-nilai ESQ 165 di negara masing-masing. Respons dari peserta yang umumnya para trainer SDM kelas dunia itu, sangat positif . Bahkan, Ary diminta oleh Almir Filsar, peserta dari Slovenia, untuk berbicara tentang ESQ 165 untuk korban perang serta konflik etnis Bosnia di Sarajevo.


Ary, sang penemu ESQ Model, pada mulanya tak pernah membayangkan akan memaparkan ESQ dalam sebuah forum internasional, dan dalam bahasa Inggris. Padahal, ia harus berbicara di hadapan peserta yg tidak mengenal Islam, bahkan semula mereka umumnya berpikiran negatif tentang Islam. Saya sendiri benar-benar terkejut karena dapat membawakan materi ESQ dalam bahasa Inggris dengan sangat lancer, seperti saya memberikan training ESQ dalam bahasa Indonesia. Ini semua karena pertolongan Allah, katanya.


Hasil pemaparan ESQ di Oxford mudah-mudahan menambah keyakinan dan semangat para alumni ESQ dalam menyebarkan nilai-nilai 165 ke seluruh dunia, kata Ary lagi.
(ekky imanjaya)

Tidak ada komentar: